Selasa, 29 November 2011

faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ispa pada balita


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pneumonia tergolong penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Penyakit ini dipicu oleh berbagai mikroorganisme terutama bakteri dan virus pada saluran pernafasan, jaringan paru dan adneksanya. Tapi etiologi pasti mikrobiologisnya sukar didapat. Di negara maju, menurut British Thoracic Society, 20-60 persen etiologi Pneumonia tidak terindentifikasi. Pada beberapa studi melaporkan bahwa pada anak usia 2 bulan sampai 5 tahun bakteri utama penyebab Pneumonia adalah streptococus pneumoniae, S. pneumoniae, Haemophilus Influenzae tipe b Hib, dan staphilococus aereus (S. aureus) (Nursalam, 2006)
Penelitian di beberapa negara berkembang menunjukan bahwa S. pneumoniae dan Hib merupakan bakteri yang selalu ditemukan pada dua pertiga hasil isolasi, yaitu 73,9 persen dari aspirat baru dan 69,1 persen dari spesimen darah (Marjanis Said, 2011).
Pneumonia merupakan 'predator' balita nomor satu di negara berkembang. Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2005 memperkirakan kematian balita akibat pneumonia diseluruh dunia sekitar 19 persen atau berkisar 1,6 – 2,2 juta. Dimana sekitar 70 persennya terjadi di negara-negara berkembang, terutama Afrika dan Asia Tenggara. Persentase ini terbesar bahkan bila dibandingkan dengan diare (17 persen) dan malaria (8 persen). Di USA pada akhir tahun 1990, pneumonia merupakan penyebab kematian pertama karena infeksi (Graham- Smith dan Aronson, 2002; Dipiro dkk., 2005).
Prevalensi pneumonia pada batita di Indonesia cenderung meningkat. Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 kematian batita akibat pneumonia meningkat, berkisar 18,5 -38,8 persen (Mardjanis Said, 2011). Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada akhir tahun 2000, diperkirakan kematian akibat pneumonia sebagai penyebab utama infeksi saluran pernafasan akut di Indonesia mencapai 6 kasus di antara 1000 bayi dan balita (Anies, 2006).
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, menunjukkan; prevalensi nasional ISPA: 25,5% (16 provinsi di atas angka nasional), angka kesakitan (morbiditas) pneumonia pada Bayi: 2.2 %, Balita: 3%, angka kematian (mortalitas) pada bayi 23,8%, dan Balita 15,5% sehingga  pneumonia merupakan pembunuh utama anak dibawah usia lima tahun (Balita) di dunia, lebih banyak dibandingkan dengan penyakit lain seperti AIDS, Malaria dan Campak. Namun, belum  banyak perhatian terhadap penyakit ini. Di dunia, dari 9 juta kematian Batita lebih dari 2 juta Batita meninggal setiap tahun akibat pneumonia atau sama dengan 4 Balita meninggal setiap menitnya. Dari lima kematian Balita, satu diantaranya disebabkan Pneumonia (Endang R. S, 2009).
Pneumonia dan bronkiolitis merupakan bagian dari ISPA bawah banyak menimbulkan kematian, hingga berperan besar dalam tingginya Angka Kematian Bayi (AKB) . Setiap tahun di perkirakan 4 juta anak balita meninggal karena ISPA (terutama Pneumonia dan Bronkiolitis) di negara berkembang (Said, 2007).
ISPA mengakibatkan sekitar 20% - 30% kematian anak balita. ISPA juga merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien pada sarana kesehatan. Sebanyak 40% - 60% kunjungan berobat di Puskesmas dan 15% - 30% kunjungan berobat di bagian rawat jalan dan rawat inap rumah sakit di sebabkan oleh pneumonia (Triska dan Lilis, 2005). Dari seluruh kematian yang disebabkan oleh pneumonia mencakup 20% - 30% kematian yang tersebar umunya adalah karena pneumonia pada bayi berumur kurang dari 2 bulan (Maulana, 2007).
Data dari Dinas Kesehatan AAA memberikan gambaran bahwa angka kajadian Pneumonia pada tahun 2009 sebesar 41.261 (21,09%), dan khusus di Balita di Puskesmas AAA memberikan hasil yang menujukkan tingginya penderita Pneumonia yakni sebesar 220 kasus tahun 2008, 315 kasus tahun 2009 dan 321 kasus pada tahun 2010.  
Gambaran data di atas, merupakan masalah yang menujukkan bahwa tingginya mortalitas bayi dan balita karena pneumonia menyebabkan penanganan penyakit pneumonia menjadi sangat penting artinya. Banyak faktor yang mempengaruhi tingginya kejadian ISPA Pneumonia pada anak bayi dan balita yakni faktor intrinsik (umur, statu gizi, status imunisasi, jenis kelamin) dan faktor ekstrinsik (perumahan, sosial ekonomi, pendidikan) (Muluki, 2003). Risiko akan berlipat ganda pada anak usia dibawah dua tahun yang daya tahan tubuhnya masih belum sempurna. Pneumonia pada anak dibawah dua tahun harus diwaspadai oleh orang tua, karena dapat menyebabkan kematian (Ruslan, 2007).
Di Propinsi AAA menyebutkan jumlah penderita kurang gizi pada tahun 2010 berjumlah 16,29%, penderita gizi kurang berjumlah 13,64% dan penderita gizi buruk berjumlah 2,65%. Dari jumlah kasus kurang gizi tersebut di atas tersebar di 10 kabupaten/kota yaitu, Kolaka 13,1%, Kolaka Utara 16,1%, Muna 11.0%, Bombana 5.8%, Wakatobi 25.0%, Buton 17.5%, Konawe 12.7%, Konawe Selatan 11.6%, Kota Bau-Bau 14.4% dan Kota Kendari 9,2%, yang merupakan daerah yang paling banyak ditemukan penderita kurang gizi, dengan total jumlah balita 247.483 anak.
Berdasarkan data dari Profil Kesehatan Kota AAA (2008) rata-rata cakupan ASI eksklusif adalah 27,49%, terjadi peningkatan dibandingkan dengan tahun 2006 yang mencapai 20,18%, tahun (2007) cakupan pemberian ASI eksklusif hanya sekitar 28,08% terjadi sedikit peningkatan dibandingkan dengan tahun 2008 yang mencapai 27,49%. Angka ini dirasakan masih sangat rendah dibandingkan target pencapaian ASI eksklusif tahun 2005 sebesar 65% dan target tahun 2010 sebesar 80%, tahun (2008) cakupan pemberian ASI eksklusif hanya sekitar 27,49% terjadi sedikit penurunan dibandingkan dengan tahun 2007 yang mencapai 28,08% (Dinkes Kota AAA, 2009).
Kemudian dari hasil studi pendahuluan bahwa jumlah bayi di wilayah kerja Puskesmas AAA pada tahun 2010 adalah 107 bayi dengan distribusi bayi yang mendapatkan imunisasi dasar sebagai berikut: imunisasi dasar (DPT 1, 2, 3) yaitu sebanyak 17 bayi (18,19%), imunisasi BCG sebanyak 6 bayi (6,42%), imunisai Polio I,II,III,IV sebanyak 34 bayi (36,38%), imunisasi campak sebanyak 5 bayi (5,35%) sedangkan untuk imunisasi Hepatitis I,II dan III hanya 28 bayi (29,96%), selebihnya 17 bayi (15,88%) tidak pernah mendapat imunisasi.
Penemuan penderita Pneumonia pada balita di pROV. AAA, sejak tahun 2006 hingga 2008, berturut–turut adalah 74.278 kasus (36,26 %), 62.126  kasus    (31,45%), 72.537 kasus (35,94%) (Anonim, 2008). Sedangkan penemuan penderita Pneumonia pada balita di Kota AAA tahun 2006 hingga 2008, berturut-turut adalah 8.291 kasus (23,63%), 7.671 kasus (28,09%) dan 7.289 kasus (24,63%). Data  kesakitan  yang  dilaporkan oleh  Dinas Kesehatan Kota AAA tiga tahun terakhir (tahun 2006 sampai dengan tahun 2008), Puskesmas AAA menduduki urutan kedua tertinggi Pneumonia dari 24 Puskesmas di Wilayah AAA. Atas dasar tersebut maka penulis memilih Puskesmas AAA sebagai lokasi penelitian.
Di Wilayah Kerja Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) AAA, penemuan penderita Pneumonia pada balita tahun 2006 sebanyak 1.471 kasus (20,29%) dan sebanyak 415 (28,2%) kasus Pneumonia. Tahun 2007 sebanyak 1.059 kasus (24,62%) dengan 258 (24,4%) kasus Pneumonia. Kasus Pneumonia pada balita di Puskesmas AAA pada tahun 2008 ditemukan sebanyak 1.149 dengan 383 (33,3%) kasus Pneumonia. Sedangkan jumlah bayi di wilayah kerja Puskesmas AAA tahun 2011 pada bulan April  sebanyak 124 orang.
Berdasarkan fenomena di atas, maka penulis tertarik meneliti tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Pneumonia pada Balita di Puskesmas AAA.  
B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:” Bagaimana hubungan pemberian ASI eksklusif, status gizi dan kelengkapan status imunisasi dengan kejadian Pneumonia pada Balita di Puskesmas AAA Tahun 2011
C.    Tujuan Penelitian
1.     Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Pneumonia pada Balita di Puskesmas AAA tahun 2011.
2.     Tujuan Khusus
a.      Mengetahui hubungan pengetahuan ibu dengan kejadian Pneumonia pada Balita di Puskesmas AAA tahun 2011.
b.      Mengetahui hubungan pemberian ASI Ekslusif dengan kejadian Pneumonia pada Balita di Puskesmas AAA tahun 2011.
c.      Mengetahui hubungan status gizi dengan kejadian Pneumonia pada Balita di Puskesmas AAA tahun 2011.
d.     Mengetahui hubungan kelengkapan status imunisasi dengan kejadian Pneumonia pada Balita di Puskesmas AAA tahun 2011.
D.    Manfaat Penelitian
1.     Sebagai bahan masukan bagi pemerintah khususnya bagi Dinas Kesehatan Kota AAA dan Puskesmas dalam penentuan arah kebijakan program penanggulangan penyakit menular khususnya Pneumonia.
2.     Diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam pengembangan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan, disamping itu hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan rujukan bagi penelitian selanjutnya.
3.     Bagi penulis merupakan suatu pengalaman yang sangat berharga dalam mengaplikasikan ilmu yang telah didapat dan menambah wawasan pengetahuan.

(UNTUK MENDAPATKAN KTI/SKRIPSI INI, SILAHKAN HUBUNGI ; 085756876298)
DENGAN HANYA MEMBAYAR/TRANSFER 30.000 Rupiah ANDA BERHAK MENDAPATKAN ISI PROPOSAL INI 
CARANYA TRANSFER KE No. Rek  0192-01-073854-50-0
A.n : La Ode Alifariki
Bank :BRI Kendari 
 NB: setelah uang ditransfer silahkan kirimkan tanda bukti pengiriman ke email: ners_riki@yahoo.co.id kemudian hubungi No.HP di atas









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar